Tidak Sadar

Kau mungkin tidak sadar.
Tidak menyadarinya juga. 
Entah kau terlalu sibuk dengan hidupmu, urusanmu, atau bahkan dengan kesedihanmu?

Karena aku begitu. Aku terlalu sibuk memperhatikanmu. Memikirkan apa yang harus aku lakukan. Namun, ternyata kau juga begitu.

Suatu kala aku berada dalam amarah yang terlalu tinggi. Sangat tinggi, mungkin. Karena aku tidak bisa mendapatkan keinginanku. Aku ambisius, namun keinginanmu kadang lebih penting dari apapun. Lalu, aku kehabisan kata-kata. Aku terlalu lumpuh untuk marah. Untuk berkata apapun. Aku sedih. Sampai akhirnya hanya kata-kata kasar yang tersampaikan dengan sendirinya. Kamu hanya diam. Mengapa? Aku bingung. Mengapa kamu hanya diam? Membaca semua isi pesanku yang tidak pantas dibaca. Kata-katanya terlalu kotor. Apakah kau tidak marah? Kau tidak ingin membalas? Semakin kau diam semakin aku tidak berhenti pula. Aku terus menghujatmu dengan berbagai kata. Dan kamu tetap diam.

Hingga akhirnya. Telepon berdering. Sudah kuduga. Dengan amarah yang sedang meluap, aku angkat telepon dengan tergesah-gesah. Lalu, aku terdiam. Diujung sana terdengar suaramu yang sangat aku rindukan, namun hanya hembusan nafas, bukan berkata apapun. "Ya ampun? Kau masih juga diam? Tidak ingin marah sedikitpun?", lalu, kau mulai berbicara, "lanjutkan marahmu, apa yang kau tulis tadi, ucapkan sekarang." Dengan sangat halus dan lembut kau mengatakan itu. Aku lumpuh. Aku tidak bisa. Apa yang ia minta tidaklah sulit. Aku hanya harus mengatakan apa yang aku tulis, bukan? Mengapa sulit sekali?

Setelah aku terdiam cukup lama, aku terlalu lumpuh, sampai tidak sadar aku menangis. Air mata ini terlalu lincah, hingga datang tanpa diminta, ya ampun! Lalu ia melanjutkan,
"Kamu itu tidak bisa marah. Apalagi berkata seperti apa yang kamu tulis tadi. Itu bukanlah kamu. Aku hanya menunggumu menangis. Seperti ini. Lalu aku bisa tahu, bahwa kamu benar-benar marah. Marahmu itu adalah tangisan, bukan ucapan."

Aku terenyuh. 
Entah apa yang aku pikirkan hingga aku tidak sadar. Apakah aku begitu?

Pada akhirnya.
Yang ingin disampaikan hanyalah.
Selalu ada yang mengetahui bagaimana kamu, ia mengerti dan memahami dengan baik. Namun sayangnya, kamu tidak sadar. Hingga kamu lupa bila ada yang selalu memahami dirimu lebih dari dirimu sendiri. Beruntunglah, dia begitu pasti karena mencintaimu juga, bukan?

Dan aku, sangat beruntung. Dan bersyukur akan memiliki seseorang yang seperti itu. Terima kasih, sang Mulia.

--- Cielo's little wing.

Comments